Yang Bisa Kita Pelajari Dari Tragedi Goo Hara Dan Sulli

Yang Bisa Kita Pelajari Dari Tragedi Goo Hara Dan Sulli

76
0
SHARE
instagram @koohara__

Kpop berduka. Penyanyi dan aktris Goo Hara, ditemukan meninggal di rumahnya di kawsasan Cheongdam, Gangnam, Seoul, Korea Selatan. Pada Minggu sore (24/11), polisi menyatakan perempuan 28 tahun itu tutup usia. Hanya berselang 40 hari dari kematian sahabatnya, Sulli.

Mantan anggota girlband Kara ini diduga bunuh diri. Polisi tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Tapi kepastian penyebab kematian Hara masih harus menunggu hasil otopsi. Di rumahnya juga petugas menemukan catatan. Masih diselidiki apakah catatan itu memang ditulis langsung oleh Hara atau tidak.

Sebelum kematiannya, ujaran kebencian dari netizen membanjiri kolom komentar akun sosial Hara. Dia dikecam karena kemunculannya di publik, dan perseteruannya dengan mantan pacarnya, Choi Jung-bum. Padahal, pada Mei lalu, Hara sempat melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung pada saat itu, manajernya berhasil menyelamatkannya tepat waktu. Namun, kali ini tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkannya.

Media Sosial dan Kekerasan Berbasis Gender Online

Saat ini media sosial tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari update aktivitas sehari-hari hinga jualan bisa dilakukan dengan mudah. Sayangnya media sosial juga menjadi  tempat untuk saling menjelekan,  menghina, mempermalukan hingga kekerasan.

Perempuan menjadi korban terbanyak. Pada 2017, Komnas Perempuan menerima 65 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia maya.

Goo Hara dan Sulli merupakan korban kekerasan berbasis gender online. Sulli yang meninggal di usia 25 tahun, sudah menjadi artis sejak usia 15 tahun. Usai debut, berbagai komentar datang padanya. Banyak yang memuji kecantikannya. Tapi tidak sedikit yang mencelanya. Puncaknya ketika Sulli digosipkan hamil. Rumor itu berhembus saat dia memeriksakan kesehatannya di rumah sakit.

Dalam program terakhirnya, “Nights of Hate Comments”, Sulli menceritakan bahwa isu kehamilannya sangat menyakitinya. Padahal saat itu dia hanya memeriksakan kesehatannya tapi seorang pekerja di rumah sakit membocorkannya. Hal yang tentu saja dilarang karena hal itu termasuk privasi.

Kasus Goo Hara bahkan lebih menyedihkan. Pada tahun lalu, dia harus dirawat di rumah sakit karena mengalami perdarahan usai bertengkar dengan mantan pacarnya penata rambut, Choi Jung-bum. Belakangan terungkap jika Jung-bum sempat mengancam akan menyebarkan video intim mereka, sehingga karir Hara habis. Media hiburan Dispatch juga merilis video Hara yang sempat berlutut di dalam lift, memohon agar mantan pacarnya tidak menyebarluaskan video tersebut.

Usai kasus ini, Hara kembali menjadi korban bullying netizen. Puncaknya pada pertengahan 2019, dia melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung percobaan itu gagal. Hara kemudian menata kembali karir dan kehidupannya di Jepang. Tapi seiring waktu, komentar jahat kembali memenuhi media sosialnya.

Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet) membagi beberapa aktivitas yang termasuk dalam kekerasan berbasis gender online.

Pelanggaran Privasi

Kekerasan yang termasuk dalam pelanggaran privasi antara lain mengakses, menggunakan, memanipulasi dan menyebarkan data pribadi, foto/video , serta informasi dan konten pribadi tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan. Doxing atau mengali dan menyebarkan informasi pribadi seseorang untuk tujuan jahat lainya.

Pengawasan dan pemantauan

Kegiatan seperti memantau, melacak dan mengawasi kegiatan online atau offline atau penggunaan spyware tanpa persetujuan serta menguntit/stalking termasuk ke dalam kekerasan ini.

Perusakan reputasi

Safenet menyebutkan jika tindakan mencuri identitas dan impersonasi, memanipulasi atau membuat konten palsu, dan membuat komentar atau postingan bernada menyerang, meremehkan termasuk termasuk ke dalamnya.

Pelecehan

Korban mendapatkan pelecehan online, dapat melalui pesan, perhatian atau kontak yang tidak diinginkan. Ancaman langsung kekerasan seksual atau fisik, komentar kasar, ujaran kebencian dan postingan di media sosial, konten online yang mengambarkan perempuan sebagai objek seksual dan mempermalukan perempuan karena mengekspresikan pandangan yang tidak normatif termasuk dalam aktivitas ini.

Ancaman dan kekerasan langsung

Aktivitas yang termasuk dalam ancaman dan kekerasan langsung antara lain perdagangan perempuan, pemerasan seksual, pencurian identitas, uang dan peniruan yang mengakibatkan serangan fisik.

Serangan yang ditargetkan ke komunitas tertentu

Safenet menyebutkan jika kegiatan meretas situs web, media sosial atau email dengan niat jahat, ancaman langsung kekerasan terhadap anggota serta pengungkapan informasi yang sudah dianonimkan merupakan bentuk serangan yang ditargetkan ke komunitas tertentu.

Yang Harus Dilakukan Korban Kekerasan Berbasis Gender Online

Dokumentasikan

Kumpulkan screenshot yang menangkap kekerasan secara detail. Buat kronologi sehingga mempermudah saat melapor.

Menghubungi bantuan

Hubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) terdekat dan minta bantuan. Jangan takut dan malu untuk meminta bantuan. Selain LBH, korban juga dapat melapor ke saluran khusus Komnas Perempuan di 021-3903963 dan 021-80305399. Pengaduan juga bisa dilakukan melalui surat elektronik di mail@komnasperempuan.go.id

Lapor dan blokir pelaku

Laporkan dan  blokir akun-akun yang membuat tidak nyaman dan mengancam. Jangan takut dna malu untuk melaporkan akun-akun yang telah berbuat kekerasan tersebut.