Martin Luther King Jr, “Gandhi Hitam”

Martin Luther King Jr, “Gandhi Hitam”

287
2
SHARE

 

I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at the table of brotherhood.

I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.

I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.

I have a dream today! 

(Martin Luther King Jr.)

 

Rabu, 28 Agustus 1963. Martin Luther King, Jr., berdiri di anak tangga di depan Lincoln Memorial, Washington D.C. Hari itu, King berpidato di depan lebih dari 250 ribu orang. Tua, muda, hitam, putih semuanya menjadi satu. Berkumpul dan mendesak pemerintah untuk memberikan hak suara dan kesataraan bagi warga afro. Menghentikan rasialisme dan diskrimnasi.

 

Selama 17 menit, King berpidato. Menyampaikan gagasan dan impiannya. Tentang suatu masa dimana tidak ada lagi perbedaan antara si hitam dan si putih. Kehidupan yang harmonis dimana semua orang adalah sama.

 

Martin Luther King Jr, lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia. Awalnya dia bernama Michael, sama seperti ayahnya yang merupakan pendeta, Michael King. Tapi setelah menghadiri konferensi keagamaan di berlin pada 1094, Michael mengganti namanya dan anaknya menjadi Martin Luther. Nama yang sama dengan teolog Jerman, Martin Luther.

Pada masa itu rasialisme dan diskriminasi sangat kuat.  Orang kulit putih merasa dirinya lebih baik dari kulit hitam. Bagaikan dua kutub yang berbeda, keduanya tidak bisa disatukan. Ketika berusia 6 tahun, King tidak dapat bersekolah yang sama dengan temannya yang berkulit putih.

 

Di usianya yang ke-14, King remaja justru mengalami kejadian yang lebih tidak mengenakan. Dia baru saja memenangkan lomba pidato tentang  persamaan hak. Dia pun menaiki bus untuk kembali ke rumah. Ironisnya, King harus mengikhklaskan bangku yang didudukinya kepada seorang penumpang berkulit putih. King tidak mendapatkan bangkunya bukan karena penumpang itu telah berusia lanjut, bukan seorang ibu hamil. Dia harus kehilangan kursi karena dia tidak berkulit putih.

 

Jengah dengan segala  diskriminasi, King memutuskan untuk mengambil sikap. Dia tidak bisa berdiam diri. Walau perbudakan di negeri Paman Sam secara resmi telah dihapuksan pada 1865, tapi prakteknya tetap ada. Jangan berharap dapat melihat warga Afrika-Amerika bersekolah di tempat yang sama dengan kulit putih. Makan di restoran yang sama. Membeli pakaian di toko yang sama.

 

Tapi King memiliki keyakinan jika peperangan melawan rasialisme ini harus ditempuh dengan cara damai. King sangat mengagumi Mahatma Gandahi. Bahkan beberapa orang menjulukinya sebagai “Black Gandhi”.

 

Dia mempercayai ucapan tokoh pergerakan India tersebut yang mengatakan jika hukum satu mata dibalas dengan satu mata, akan membuat seluruh orang di dunia menjadi buta.

“If we do an eye for an eye and a tooth for a tooth, we will be a blind and toothless nation.”–Martin Luther King Jr.

 

Setiap bercerita tentang pergerakan King, tidak akan lepas dari Rosa Parks. Pada 1 Desember 1955, dalam perjalanannya menuju rumah, Rosa Park duduk di barisan depan kursi untuk mereka yang berkulit berwarna. Kursi di bagian depan bus diperuntukan bagi mereka yang berkulit putih. Ketika bangku untuk penumpang kulit putih penuh, Parks dan tiga penumpang lainnya yang duduk di barisan depan bangku untuk penumpang kulit berwarna diminta pindah. Tiga penumpang menuruti perkataan sopir bus J. Fred Blake. Tapi Parks, yanag saar itu berusia 42 tahun menolak. Buntutnya,  dia ditahan dan didenda  $10 dan biaya administrasi $4.

 

Setelah peristiwa ini menyebar, sejumlah tokoh Afrika-Amerika bersatu. Peristiwa inilah yang mendorong gerakan Boikot Bus Montgomery.  Rencana untuk memboikot bus sudah digaungkan pada 4 Desember, oleh para pendeta. Media massa lokal juga memberitakan rencana ini. Seluruh tokoh Afrika-Amerika berkumpul. Mereka sepakat memilih King sebagai pemimpin gerakan ini. Pada 5 Desember 1955, puluhan ribu warga Afrika Amerika memboikot sistem transportasi. Boikot ini berlangsung selama 381 hari. Awalnya gerakan ini tidak diacuhkan. Tapi pemboikotan ini berdampak pada merosotnya pendapatan bus hingga lebih dari 75%. Akhirnya,  pengadilan federal setempat memerintahkan desegregasi bus di Montgomery pada 1956. Gerakan Boikot Bus Montgomery menggema ke seluruh negara bagian Amerika Serikat dan memicu Pergerakan Nasional Hak Asasi Manusia Amerika.

 

Pergerakan semakin massif. Koordinasi gerakan warga Afrika-Amerika ditingkatkan. Pada Januari 1957, King, Ralph Abernathy dan puluhan pendeta serta aktivis kemanusiaan  mendirikan Southern Christian Leadership.  King dikenal sebagai orator ulung. Tapi tidak banyak yang tahu jika dia dimentor oleh Bayard Rustin. Seorang Afrika-Amerika  yang gay dan berhubungan dengan komunis. Walau kontroversial, Rustin yang merupakan aktivis HAM ini berkontribusi besar bagi kehidupan King.

Karena perjuangannya, King puluhan kali keluar dan masuk penjara. Dia pernah dipenjara karena melalui aksi duduk di Greenboro, North Carolina. Dia kembali dipenjara karena mengulangi aksi serupa di Atlanta. Tapi intervensi dari John Kennedy dan Robert Kennedy membuatnya bebas.

 

Mendekam di penjara tidak lantas membuat King mati kutu. Dia tetap produktif. Ketika dipenjara saat berdemonstrasi tanpa izin di Birmingham, King membuat sebuah catatan, “The Letter from Birmingham Jail”.

 

Pernah juga ia ditangkap bersama Ralph Abernathy karena melakukan demonstrasi tanpa izin. Dan selama sebelas hari mendekam dalam penjara, ia menulis suratnya yang terkenal dari balik penjara Birmingham. Catatan itu berjudul “The Letter from Birmningham Jail”.

Gerakan duduk atau “sit-in” merupakan perlawanan yang efisien dalam perjuangan kaum  Afrika-Amerika. Bayangkan saja, segolongan yang dilarang untuk berada di suatu tempat, bersikeras tidak mau pergi dari lokasi tersebut. Meski diusir, mereka menolak pergi. Padahal tidak hanya kata-kata pedas, kekerasan fisik juga dilakukan untuk mengusir mereka yang duduk ini. Tetapi pengunjuk rasa tetap bertahan di kursi yang telah ditempati. Gerakan ini dikampanyekan King kepada kaum pelajar. Para pelajar dan warga biasa mengikuti gerakan ini. Pada Agustus 1960, Gerakan duduk ini berhasil mengakhiri segregasi lebih dari 20 tempat makan di negara bagian selatan.

King terkenal sebagai orator ulung. Banyak pidatonya yang menginspirasi dan membakar semangat pendemo. Namun, pidatonya di Lincoln Memorial menjadi salah satu pidato terbaik sepanjang masa. Dan karena ikoniknya pidato ini, hak cipta pidato “I Have a Dream” ini dilindungi pemerintah Amerika Serikat selama 70 tahun, atau sampai 2038.

“I Have a Dream” dimulai dengan diksi menarik. Alih-alih mengatakan A century ago (seratus tahun lalu), King memulai pidatonya dengan kalimat “Five score years ago…” yang berarti lima dikalikan 20 tahun, yang artinya sama, seratus tahun lalu. Five score years ago sudah jarang digunakan dalam perbincangan warga Amerika. Keterangan waktu yang digunakannya merujuk kepada pidato yang disampaikan Abraham Lincoln pada saat perang saudara berlangsung pada November 1863. Lebih dari 200 ribu orang yang berkumpul di tempat itu bergemuruh usai King berpidato.

Tidak hanya menuntut persamaan hak, King juga menyuarakan pendapatnya tentang perang di Vietnam. King yang sejatinya pendukung Presiden Lyndon B. Johnson menentang kebijakan pemerintah dalam perang Vietnam.

“Dampak perang itu lebih buruk karena menghancurkan harapan kaum miskin. Kita merenggut pemuda kulit hitam yang terpasung hak-haknya di lingkungan kita sendiri. Mengirimnya sejauh 8.000 mil untuk menjami kebebasan di Asia Tenggara yang tidak pernah mereka dapatkan di barat daya Georgia dan East Harlem”.

King terus memperjuangkan sikapnya. Mendukung perdamaian dan menolak peperangan sampai nafas terakhirnya. King dibunuh pada 4 April 1968 saat sedang berada di Memphis. Seorang anti kulit hitam, James Earl Ray menembak King di balkon motel.

King was in Memphis for a march backing striking sanitation workers when he was shot dead on his motel balcony by white supremacist James Earl Ray.

King maintained his antiwar stance and supported peace movements until he was assassinated on April 4, 1968, one year to the day after delivering his Beyond Vietnam speech.

 

nb:

seharusnya ini diposting pada 15 Januari bertepatan dengan hari kelahiran King, tapi baru bisa terposting sekarang.

source:

http://www.bbc.co.uk/timelines/z86tn39

http://www.history.com/this-day-in-history/martin-luther-king-jr-speaks-out-against-the-war

SHARE
Previous articleDon’t Say “Goodbye” 2NE1
Next articleHari Matinya Musik (The Day The Music Died)
Hi, I am Sekar Sari Indah Cahyani but you can call me Sekar. I am a mother of two who love music, movie, reading, cooking and still learning about make up. I really love music. Unfortunately, I can’t sing and playing any music instruments. My music range from “you need to listen to this” to “please don’t judge me”. All of my favorites have nothing to with my age. Age is just number. So, if you have same interests with me, let’s have a nice talks. And, please enjoy my world.

2 COMMENTS

Comments are closed.