Dua Wajah W. Mark Felt, Sang Deep Throat Dan Loyalis

Dua Wajah W. Mark Felt, Sang Deep Throat Dan Loyalis

339
0
SHARE
cr: https://www.theguardian.com/world/2008/dec/19/mark-felt-deep-throat-obituary

Kontributor Vanity Fair di San Fransisco, John D. O’Connor mengawali tulisannya yang dimuat untuk edisi Juli 2005 dengan mengisahkan pertemuan antara Joan Felt dengan Bob Woodward. Pada Agustus 1999, Joan, yang pada saat itu merupakan seorang professor sedang dalam perjalanan menuju kampus. Tepat di depan pintu rumahnya di Santa Rosa, California, ada seorang pria paruh baya. Dia mengaku bernama Bob Woodward. Bagi Joan, nama Woodward bukanlah nama yang familiar di telinganya. Dia hanya menduga jika jurnalis The Washington Post tersebut hanya salah satu dari sekian banyak reporter yang pernah menghubungi ayahnya, W. Mark Felt. Meski pada akhirnya Joan mengakui jika Bob cukup menarik. “Kami sepantaran. Dia juga cukup menarik. Sayang sudah tidak sendiri.”

Memang saat itu banyak wartawan yang menghubungi Mark Felt. Apalagi saat itu banyak wartawan yang menanyakan apakah sosok deep throat yang membuka skandal Watergate adalah ayahnya. Pada saat skandal itu berlangsung, Mark Welt merupakan orang nomor dua di FBI, sehingga wajar orang berspekulasi dirinya adalah narasumber misterius tersebut.

Karena tidak mengenal sosok Bob, Joan sangat terkejut ketika ayahnya langsung menyetujui permintaan Woodward untuk bertemu. Ketiganya sempat bertegur sapa. Bahkan selama beberapa tahun ke depan, komunikasi antara mereka tetap terjalin melalui telpon atau email.

Woodward tetap bersilaturahmi dengan keluarga Welt. Pada 2001, kondisi Felt sudah menurun. Dia juga sempat terserang stroke. Dalam emailnya, Bob terus menyemangati keluarga ini. “Ayahku juga hampir berusia 91 tahun. Tapi dia terlihat bahagia. Dan itu yang terpenting.”

O’Connor lalu melanjutkan ceritanya saat ia dan istri mengunjungi putri mereka, Christy. Saat itu ada seorang teman Christy, Nick Jones ikut bergabung. Mereka lalu terlibat dalam pembiacaran yang hangat. Ketika sedang bercerita tentang Perang Dunia II, Nick mengatakan jika kakeknya pernah bergabung dengan FBI. Dan O’Connor semakin terkejut saat mengetahui jika Felt adalah orang yang dimaksud Nick.

Nama Felt langsung mengejutkan O’Connor. “Mark Felt? Jangan bercanda. Kamu tahu jika kakekmu itu adalah Deep Throat?”. Nick tetap tenang menjawab seluruh pertanyaan. “Kau tahu, aku sudah lama mendengar hal itu. Tapi baru-baru kami berpikir jika mungkin saja hal itu memang benar.”

Beberapa hari kemudian, Nick menelpon O’Connor. Dia menanyakan apakah pria itu mau bertemu dengan kakeknya, Mark Felt. Dalam perbincangan melalui telpon, Nick mengaku jika kakeknya, telah mengakui dirinya adalah Deep Throat. Tapi Felt tetap ingin merahasiakan hal tersebut dari orang lain. Felt merasa tindakan membocorkan rahasia pemerintahan bukanlah sikap patriotik. Tidak bermoral. Seorang agen FBI harus loyal terhadap institusinya.

Lain halnya dengan Joan dan Nick, yang justru memandang Felt sebagai seorang patriot. Mereka berpikir sudah saatya dunia mengetahui jika Felt adalah Deep Throat. Mereka ingin mencari seseorang yang dapat membantu Felt, untuk menceritakan kembali kisahnya. Sebelum Felt tutup usia dan terlupakan.

Padahal Deep Throat merupakan sosok spesial dalam dunia jurnalistik. Dia diyakini sebagai narasumber anonim yang paling terkenal. Tidak hanya terkenal, Deep Throat juga memegang peranan penting dalam lengsernya Richard Nixon dari kursi presiden.

Tidak hanya menumbangkan kekuasaan Nixon di negara adidaya tersebut, Watergate juga disebutkan sebagai contoh peran pers dalam mengawasi pemerintahan. Sekaligus contoh bagaimana kekuatan media tidak hanya dalam pemberitaan tapi juga dapat menganti rezim.

Tidak mudah untuk meyakinkan Felt agar mau mengakui kepada publik bahwa dia adalah Deep Throat. Felt tetap merasa bahwa tindakannya merupakan sebuah ketidakpatutan. Dan jika identitasnya sebagai Deep Throat tersebar, dia tahu siapa pelakunya. Tapi ketika Joan menyampaikan, “Lakukan ini demi keluarga.”

Dan Felt akhirnya setuju.