Kisah Romantis Antara J.R.R Tolkien dan Edith Bratt

Kisah Romantis Antara J.R.R Tolkien dan Edith Bratt

280
0
SHARE
cr: topfuto.co.uk

 

 

“Don’t go where I can’t follow!”

― J.R.R. Tolkien, The Two Towers

 

 

Di batu nisan itu terdapat nama  Luthien dan Beren. Kedua nama ini adalah tokoh utama dalam salah satu dongeng fantasi J.R.R Tolkien. Kisah cinta dua makhluk dari alam yang berbeda ini nyaris tidak dapat dinikmati jika saja Christopher Tolkien tidak menemukannya.

 

J.R.R Tolkien atau lengkapnya John Ronald Reuel Tolkien menjadikan istrinya—Edith Mary Bratt-sebagai inspirasinya dalam menulis. Luthien digambarkan sebagai elf cantik yang pandai bermusik dan menari. Bahkan peristiwa saat Edith menari di hutan kayu di antara pepohonan dan bunga, menginspirasi adegan pertemuan antara Luthien dan Beren.

 

Ronald memang sangat mencintai istrinya. Bertemu di usianya yang ke-16, Ronald langsung jatuh hati kepada Edith. Walau lebih tua tiga tahun, tapi tidak menyurutkan keinginan Ronald untuk memacari Edith. Mereka memang memiliki banyak persamaan.

 

Keduanya sama-sama yatim piatu. Sama-sama membutuhkan kasih saying. Penulis Humphrey Carpenter mengisahkan jika kisah romantis antara Ronald dan Edith terjalin karena kebersamaan mereka.

 

“Edith dan Ronald sering mengunjungi kedai teh di Birmingham, apalagi jika kedai itu memiliki balkon. Mereka akan duduk dan melempar gula ke dalam topi pejalan kaki. Mereka lalu pindah ke meja lainnya jika mangkuk gula sudah kosong”.

 

Dan pada musim panas 1909, keduanya pun berpacaran.

 

Tapi kisah cinta ini hanya berjalan sesaat. Wali Ronald, Pendeta Morgan, melarang keduanya berhubungan. Selain berusia lebih tua, Edith dinilai membawa pengaruh buruk bagi Ronald. Dan yang terpenting, Edith bukanlah jemaah gereja Katolik Roma. Sementara Ronald, seorang katolik. Ronald dilarang untuk bertemu atau sekedar menghubungi Edith sampai dia berusia 21 tahun.

 

Walau berat, Ronald mematuhi larangan ini.

 

Pada 3 Januari 1913, tepat di usianya yang ke-21, Ronald akhirnya menulis surat kepada Edith. Dia mengatakan tidak pernah berhenti mencintai Edith dan mengajaknya menikah. Saat itu Edith sudah bertunangan dengan George Field. Tapi dalam surat balasannya, Edith mengakui jika pertunangan terjadi karena dia mulai meragukan Ronald. Dia ragu jika kekasih kecilnya tersebut masih  mencintainya. Tapi surat yang dikirimkan pria itu telah berhasil meyakinkannya kembali.

 

Lima hari berselang, Ronald akhirnya menemui Edith di Cheltenham. Keduanya pun berbicara. Edith mengambil sebuah keputusan berani. Pada sore hari, Edith menuliskan surat kepada tunangannya. Dia memutuskan pertunangan sekaligus mengembalikan cincin tunangan. Edith lebih memilih Ronald walau saat itu dia tidak memiliki pekerjaan bahkan masa depannya sendiri tidak pasti.

 

Keberanian Edith tidak berhenti di situ. Pada akhirnya, dia juga menjadi seorang katolik. Dan Gereja Katolik St. Mary Immaculate di Warwick, menjadi saksi pernikahan keduanya pada 22 Maret 1916.

 

Keduanya hidup bersama hingga akhir hayat. Pada 29 November 1971, Edith menghembuskan nafas terakhir di kediaman mereka di Bournemouth. 21 bulan berselang, tepatnya 2 September 1973, giliran sang suami menyusul. Dia dimakamkan di dalam liang yang sama dengan Edith. Nama Beren pun ditambahkan di nisan Edith, yang sebelumnya bertuliskan Luthien.