Perempuan-Perempuan Hebat Dalam Time Person Of The Year 2017

    282
    0
    SHARE
    cr: TIME

    Para pemutus kesunyian atau silence breakers.  Time menobatkan para perempuan yang menjadi pemutus kesunyian dan mendorong gerakan #MeToo sebagai tokoh tahun ini atau person of the year.

    Sebagai penghormatan, para perempuan berani ini akan ditampilkan dalam sampul majalah Time edisi 18 Desember 2017. Mereka adalah aktris Ashley Judd, penyanyi Taylor Swift, mantan teknisi Uber Susan Fowler, pemetik stroberi Isabel Pascual dan pelobi Adama Iwu.

     

    http://

    Ashley Judd membuat public kaget dengan pengakuannya sebagai korban pelecehan seksual oleh produser terkenal Harvey Weinstein. Pada 8 Oktober 2017, aktris 49 tahun ini menceritakan pelecehan yang terjadi pada 1997 silam. Dan pengakuan Judd mendorong aktris terkenal lainnya untuk berani angkat bicara. Sedikitnya 60 aktris mengaku menjadi korban pelecehan seksual Weinsten.  Gwyneth Paltrow, Rosanna Arquette, Angelina Jolie, Asia Argento, Dawn Dunning, Melissa Sagemiller, Mira Sorvino, Heather Graham, Lauren Sivan, Louisette Geiss, Cara Delevingne, Katherine Kendall, Tomi-Ann Roberts, Minka Kelly, Rose McGowan, Claire Forlani, Jessica Barth, Kate Beckinsale, Emma de Caunes, Judith Godreche, Ambra Battilana Gutierrez, Tara Subkoff, Lauren Holly, Sophie Dix, Lysette Anthony, Angie Everhart, Eva Green, Ivana Lowell, Paula Wachowiak, Lena Heady, Lupita Nyong’o, Heather Kerr. Nama-nama di atas juga menuding Weinstein telah melecahkan mereka secara seksual.

    Sementara Swift menjadi tokoh tahun ini karena memenangkan gugatan dari penyiar radio David Mueller pada Agustus 2017. Mueller menuntut Swift hingga jutaan dolar karena merasa dirugikan oleh penyanyi pop tersebut. Dia dipecat dari tempatnya berkerja karena telah melecehkan penyanyi itu dalam sebuah meet and greet di Pepsi Center di Denver, 2013 silam.

    Keberanian orang-orang terkenal yang menjadi korban pelecehan seksual untuk muncul dan bercerita mendorong korban lainnya untuk bermunculan. Aktris Alyssa Milano adalah orang yang pertama kali mempopulerkan kembali gerakan #MeToo setetelah mendengar cerita teman-temannya yang menjadi korban Weinstein.

     

    Tagar #MeToo tidak ditujukan khusus bagi korban pelecehan Weinstein. Kampanye Me Too pertama kali digagas aktivis sosial Tarana Burke. Pada 1997, seorang anak 13 tahun bercerita tentang kekerasan seksual yang dialaminya. Burke pun berusaha membantu korban kekerasan seksual melalui gerakan ini.

    Gerakan #MeToo tidak hanya terbuka bagi kaum perempuan tapi juga pria. Mereka dapat berbagi cerita, dukungan terhadap korban dengan menyematkan tagar #MeToo dalam cuitan mereka. Facebook menyatakan kurang dari 24 jam sejak posting Milano tentang #MeToo mendapatkan 12 juta komentar oleh 4,7 pengguna Facebook di penjuru dunia.

    Sulitnya Korban Pelecehan Seksual Bercerita

    Time memastikan bahwa penghargaan tokoh tahun ini tidak hanya diperuntukan bagi perempuan yang berpartisipasi dalam kampanye #MeToo. Karena sejak diramaikan pada Oktober 2017, lebih dari 300 ribu pria ikut berpartisipasi dalam gerakan ini.

    Pelecehan seksual ada dimana-mana. Ironisnya, korban tidak berani bercerita. Komnas Perempuan pada 2016, menyatakan lebih dari 90 persen kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan ke pihak berwajib. Angka ini muncul berdasarkan hasil survey dari 25.213 responden. Dari jumlah tersebut, 6,5 persen atau 1.636 orang mengatakan pernah diperkosa. Dan dari jumlah itu, 93 persen responden  tidak melaporkan kejahatan tersebut, karena takut akibat-akibatnya.

    Kenapa mereka takut?

    Sebuah survei yang dirilis National College Women Sexual Victimization tahun 2011, menyatakan beberapa alasan korban perkosaan memilih tetap diam. Pertama, korban menolak untuk percaya bahwa dirinya adalah seorang korban. Dalam dirinya ada penyangkalan dan penyangkalan. Dengan terus menyangkal, korban tetap beraktivitas seperti biasa dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

    Alasan lain, mereka takut akan disudutkan jika pelakunya adalah orang dekat atau orang berpengaruh. Saat melapor banyak orang justru tidak percaya apalagi jika korban masih kecil  sedangkan terlapor adalah orang dewasa dengan posisi terhormat.

    Time perlu mendapatkan apresiasi dengan memilih para pemutus kesunyian ini sebagai tokoh tahun ini. Seperti kanselir Jerman, Angela Merkel katakan, pemenang tahun ini harus dipuji karena “memiliki keberanian mengakhiri kediaman untuk korban pelecehan seksual dan mengajak seluruh orang di dunia membicarakannya”.