Gagalnya Fungsi Masyarakat dalam The Salesman (Review The Salesman (2016))

Gagalnya Fungsi Masyarakat dalam The Salesman (Review The Salesman (2016))

284
0
SHARE

Asghar Farhadi bukanlah nama asing dalam perfilman dunia. Empat filmnya berhasil masuk dalam ajang Academy Awards atau biasa disebut Oscar kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. “About Eli”, “A Separation”, “The Past”. Pria asal Iran ini berhasil membawa pulang Oscar lewat film drama “A Separation”. Dan tahun ini, namanya kembali masuk nominasi Oscar lewat kategori film “The Salesman”.

Saya penggemar Farhadi. Dia selalu berhasil menampillkan konflik keluarga dengan pas. Tidak ada yang berlebihan walau detil di setiap adegan sangat terasa. Saya selalu berusaha menebak bagaimana dia mengeksekusi akhir cerita. Karena konflik baru yang tercipta tidak terasa dibuat-buat hanya untuk memanjangkan durasi.
Dan saya tidak menyesal setelah menyaksikan “The Salesman”. Drama, ketegangan, misteri, kritik sosial semuanhya teramu dengan pas. “The Salesman” indeed another masterpiece by Farhadi.

Sejak awal film, Farhadi sudah menyisipkan konflik. Seluruh penghuni gedung apartemen berusaha menyelamatkan diri. Keluar dari gedung yang akan roboh. Termasuk sepasang suami istri, Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti), yang bersama warga lainnya berusaha menyelamatkan diri.

Keduanya lalu berpindah tempat tinggal karena gedung apartemen rusak parah. Alangkah bahagianya saat mereka dengan mudah menemukan hunian baru. Sebuah apartemen yang cukup luas. Tanpa buang waktu, mereka langsung pindah ke rumah baru mereka.
Namun, seperti yang dikatakan bahwa bahaya mengintai siapa saja tanpa peduli waktu.

Bayangkan, anda—seorang istri—sedang berada di rumah. Sendirian. Mendengar sesorang memasuki rumah. Anda mengira orang tersebut adalah suami yang baru pulang kerja. Namun, ternyata dia adalah seorang tamu tidak diundang. Di lain pihak, anda—seorang suami—yang baru pulang ke rumah menemukan jejak darah di lantai. Pintu rumah tidak terkunci. Tidak ada yang menjawab panggilan.

Farhadi memang tidak mengambarkan kejadian yang menimpa Rana secara eksplisit. Tapi tersirat jika Rana mengalami pelecehan. Saya yakin siapa pun yang berada di posisi Emad akan mencari tahu siapa “penjahat” yang melukai istrinya. Dan memang inilah yang ditampilkan Farhadi. Emad gigih mencari orang tersebut. Lantas ketika dia sudah mengetahuinya, pertanyaan masih belum selesai. Apa yang akan dilakukan pria itu terhadap sang penjahat? Apakah dia akan membalasnya? Eye for an eye. Apakah balas dendam seperti di film-film aksi tersebut akan menjadi pilihan?

Konflik ini terus mengalir. Semua pihak ditanya. Semua pihak jadi tersangka. Dan ketika Emad berhasil mengetahui identitas orang tersebut, dia ingin sekali menghajarnya. Tapi apakah semua persoalan akan selesai ketika Emad menghajar tersangka? Tidak. Emad menghadapi masalah lain yang jauh lebih penting. Emosi sang istri yang tidak stabil membutuhkan pertolongan. Luka psikis yang didapat Rana sangat dalam. Meski secara fisik dia berangsur pulih, namun perempuan itu mengalami trauma.

Seperti di awal, banyak hal yang ingin disampaikan Farhadi lewat film ini. Dia mengkritik sikap masyarakat dengan malas dan tidak acuh. Bagaimana tetangga enggan mengurusi masalah tetangganya karena merasa itu bukan masalah mereka. Atau berlindungan dengan alasan bahwa itu adalah urusan rumah tangga orang lain sehingga tidak perlu ikut campur. Gambarannya ini semakin jelas ketika dimunculkan sosok tetangga yang mengaku mendengar jeritan permintaan tolong, namun mereka tetap berdiam diri. Rasanya ingin berteriak kepada sang tetangga bahwa ketidakpedulian mereka sangat kejam.

Untuk pengambilan gambar, saya sangat menyukai bagaimana Farhadi sangat detail dengan gambar-gambar yang diambil dengan jarak pendek. Konflik menjadi lebih intense karena ekspresi Emad dan Rana dapat terekam dengan baik. Saya juga menyukai pengambilan gambar tanga apartemen baik dari high angle maupun low angle. Bagaimana bangunan apartemen menjadi terlihat lebih gelap dan mencekam.

Ketika disinggung tentang novel “The Death of Salesman” dalam film ini, saya ikut mencari novel tersebut. Saya ingin mengetahui apakah yang dapat dijadikan persamaan dari kedua karya ini. Dan, memang ada persamaan yang dapat ditarik dari kedua karya ini, yaitu kebohongan dan kritik sosial kepada warga.

Farhadi sangat serius ketika mengarap “The Salesman”. Bahkan dia sampai menghentikan proyek yang sedang berjalan dengan aktris Penelope Cruz. Namun, Farhadi sepertinya tidak akan menghadiri Academy Awards. Kebijakan Presiden Donald Trump yang melarang umat muslim dari tujuh negara termasuk Iran menjadi alasan.

Lewat cuitan di akun Toronto International Film Festival, dikonfirmasi jika Farhadi tidak dapat menghadiri acara tersebut.