Review Film Kim Ji-young Born 1982 (2019)

Review Film Kim Ji-young Born 1982 (2019)

71
0
SHARE

“Filmnya bagus”.

Itu kalimat yang diucapkan suami usai menonton film “Kim Ji-young, Born 1982”. Saya pun mengiyakan karena memang film hampir dua jam itu bagus.  Tapi sebenarnya bukan itu kalimat yang ingin saya dengar.

Memang dari alur cerita, film ini bergerak lambat. Maju mundur untuk menceritakan kisah Ji-yeong sejak kecil hingga berumah tangga. Tapi walau lambat, film ini jauh dari kata membosankan. Pasangan Jung Yu-mi dan Goong Yoo bisa bermain dengan apik. Rupanya kerja sama sebelumnya di film Train To Busan membuat chemistry keduanya menjadi sangat baik di film.

Mereka bisa menggambarkan kehidupan keluarga muda sehari-hari. Keluarga tradisional. Pria pergi berkerja di kantor dan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Dalam sebuah adegan diceritakan bagaimana keputusan untuk memiliki anak dipengaruhi oleh tekanan keluarga. Keluarga Dae-hyeon mendesak Ji-young untuk memiliki anak usai menikah.

Ji-young sebenarnya sempat menolak. Dia merasa belum siap terlebih memiliki anak akan mempengaruhi kinerjanya di kantor. Sebelum menikah, Ji-young bekerja di salah satu kantor publisis. Dan memang benar pada akhirnya Ji-yeong mundur dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga biasa.

Di film ini, diperlihatkan bagaimana melelahkannya pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Monoton dan tidak ada apresiasi. Padahal setiap manusia memiliki mimpi. Konflik sudah tersaji sejak awal film. Ji-young harus berkerja memasak dan membereskan rumah saat berkunjung ke rumah mertuanya di hari libur.  Ironi terjadi ketika ibu Dae-hyeon justru meminta Ji-young untuk bekerja sementara anak perempuannya beristirahat.

Dia beralasan jika anak perempuannya sudah lelah karena berkerja di rumah mertuanya. Dia lupa jika di dalam rumahnya ada menantunya yang sibuk bekerja sementara anggota keluarga yang lain duduk santai. Dia lupa jika menantunya juga ingin bertemu dengan keluarganya di hari raya.

Dan di adegan ini juga mulai diperlihatkan depresi yang dialami Ji-yeong. Dia secara tidak sadar akan menjadi orang lain saat merasa tertekan.

Konflik kecil terus bermunculan. Sutradara  Kim Do Young berhasil membangun cerita. Berbagai masalah yang kini terjadi di Korea Selatan bermunculan, salah satunya molka atau kamera tersembunyi. Beberapa pria memasang kamera tersembunyi di dalam toilet perempuan. Seluruh gambar itu kemudian tersebar ke berbagai situs dewasa. Di Korea Selatan sendiri skandal kamera tersembunyi memang benar bahkan menyeret berbagai nama artis terkenal.

Masalah lain yang juga muncul di film ini adalah sulitnya bagi perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak untuk bekerja. Jika tetap bekerja di sector formal, mereka akan kesulitan mencari pengasuh anaknya.  Kesulitan ini juga dialami Ji-young. Dia terpaksa mengubur keinginannya untuk berkerja karena tidak ada yang mengasuh anaknya.

Sayangnya akhir film menjadi antiklimaks.  Berbeda dengan novelnya, “Kim Ji-yeong, Born 1982” justru memiliki akhir yang bahagia. Ji-young kembali menjadi pekerja professional sementara suaminya mengambil cuti untuk menemami anaknya.

Akhir cerita justru membuat film ini kehilangan gregetnya. Karena sampai saat ini ketimpangan gender dalam pembangunan masih terjadi.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti workshop yang digagas AJI Indonesia bekerja sama dengan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).  Ada satu bahasan yang menarik yaitu minimnya perempuan yang berada di level pemimpin. Pekerja perempuan lebih banyak berada di level bawah. Padahal jumlah perempuan yang berkerja banyak.

Indeks Gap Gender Global 2018 menemukan bahwa  perempuan telah mencapai 68 persen paritas secara keseluruhan. Laporan ini mengukur kesenjangan gender dalam empat bidang utama: partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, dan pemberdayaan politik.

Sayangnya, dalam kepemimpinan, perempuan masih memiliki jalan panjang. Angka keterwakilan perempuan hanya 18 persen menteri dan 24 persen anggota parlemen secara global. Dan di tingkat manajerial, hanya 34% persen yang diisi oleh perempuan.

Berbagai fakta ini yang membuat akhir film “Kim Ji-young Born 1982” menjadi kehilangan makna. Dia tidak bisa menjelaskan siapa  Kim Ji-young ini? Apa makna 1982?

Padahal nama dan tahun tersebut sangat penting. Karena Kim Ji-young bisa menjadi siapa saja. Bisa jadi Ji-young adalah ibu, tetangga sebelah rumah, teman, guru atau bahkan kita sendiri.

Pertanyaan yang saya ingin dengar usai menonton film ini sebenarnya adalah, “Apakah kamu juga mengalaminya?”

skor: 3,5/5

 

SHARE
Previous articleYang Bisa Kita Pelajari Dari Tragedi Goo Hara Dan Sulli
Hi, I am Sekar Sari Indah Cahyani but you can call me Sekar. I am a mother of two who love music, movie, reading, cooking and still learning about make up. I really love music. Unfortunately, I can’t sing and playing any music instruments. My music range from “you need to listen to this” to “please don’t judge me”. All of my favorites have nothing to with my age. Age is just number. So, if you have same interests with me, let’s have a nice talks. And, please enjoy my world.