Chester Bennington Dan Peperangan Melawan Depresi

Chester Bennington Dan Peperangan Melawan Depresi

55
0
SHARE

 

Hampir dua pekan setelah kematian Chris Cornell, vokalis Chester Bennington memberikan penghormatan kepada vokalis Audioslave tersebut.  Di suatu sore, tanggal 26 Mei 2017, Chester tampil saat pemakaman Chris.

“Namaku Chester. Saya mendapat kehormatan besar untuk menjadi teman Chris dan diundang untuk menjadi anggota keluarganya ,” sapanya kepada seluruh pelayat. Jika biasanya Chester dikenal dengan suaranya yang melengking dan enerjik, penampilan di sore itu jauh berbeda.  Suara terdengar sedih dan rapuh saat menyanyikan “Hallelujah” diiringi petikan gitar Brad Delson.

Dan dua bulan berselang, giliran dunia yang berduka ketika Chester mengakhiri hidupnya. Tepat di hari ulang tahun Chris, Chester ditemukan tergantung.

Nama Chester Bennington  dan bandnya Linkin Park mendunia pada awal 2000. Album debut mereka Hybrid Theory  menjadi salah satu album dengan penjualan terbaik. Kurang dari 1 tahun, album ini laku hingga 4,8 juta keping. Dan hingga 2012, Hybrid Theory terjual lebih dari 10 juta keping di Amerika Serikat.

Kematian Chester diduga karena depresi. Dia memiliki riwayat ketergantungan obat-obatan dan alkohol sejak remaja. Memiliki ayah seorang detektif polisi, tidak menjamin Chester kecil terbebas dari pelecehan seksual. Sejak berusia delapan hingga 13 tahun, Chester dilecehkan oleh seorang teman pria yang jauh lebih dewasa. “Aku dipukuli dan dipaksa melakukan sesuatu yang aku tidak ingin lakukan dan peristiwa itu menghancurkan kepercayaan diriku”, kenangnya.

“Seperti kebanyakan orang, saya terlalu takut untuk mengatakan apa pun. Saya tidak ingin orang berpikir saya gay atau berbohong. Itu adalah pengalaman yang mengerikan,” katanya saat diwawancara Metal Hammer.

Bungsu dari empat bersaudara ini lalu tinggal bersama ayahnya. Ibunya yang bekerja sebagai perawat bercerai dengan sang ayah saat Chester berusia 11 tahun.

Pengalaman ini meninggalkan luka mendalam bagi Chester. Sejak remaja dia sudah mengenal opium, marijuana dan kokain. Sempat berhenti menggunakan narkoba, belakangan Chester kembali mengonsumi zat adiktif tersebut.

Keputusannya hengkang ke Los Angeles, membawa berkah bagi karir bermusik Chester. Pada 1999, Chester bergabung dengan Linkin Park. Dan merilis album demi album yang berujung dengan kesuksesan.  Suara Chester dan Mike Shinoda yang kontras, membedakan lagu Linkin Park dengan grup rock lainnya. Linkin Park salah satu band rock ternama di era 2000an.

Sayangnya kesuksesan Linkin Park membawa kembali Chester ke jurang narkoba. Saat tur, member Linkin Park kerap minum alkohol dan menggunakan narkoba.  Menjelang akhir hidupnya, beberapa teman Chester mengetahui bahwa pria itu kembali mengonsumi alkohol. Bahkan dia pernah mabuk hingga tak sadarkan diri pada Agustus 2016. Pertanda-tanda yang tidak diacuhkan ini kerap disesali teman-teman Chester.