Hari Matinya Musik (The Day The Music Died)

Hari Matinya Musik (The Day The Music Died)

310
0
SHARE

“Aku berharap bus kalian membeku.”  Buddy Holly mencandai basis grupnya Waylon  Jennings di tengah malam yang membeku. Tidak mau kalah, pria itu membalas candaan penyanyi berusia 22 tahun tersebut. “Aku harap pesawat kalian jatuh.”

Candaan yang membuat Jennings hidup dalam rasa bersalah selama bertahun-tahun.

“Demi Tuhan, selama bertahun-tahun aku mengira bahwa akulah penyebab kecelakaan itu,” kata Jennings dalam sebuah wawancara. Icon music country ini tidak mengira jika perkataanya menjadi kenyataan. Sebuah pesawat bermesin tunggal yang membawa tiga penumpang—Buddy Holly, J.P Richardson (the  Big Bopper), dan Ritchie Valens—terjatuh di sebuah ladang jagung hanya beberapa menit dari lepas landas. Ketiganya masih sangat muda. Richardson berusia 28 tahun, Holly 22 tahun dan Vallens 17 tahun.

Dari hasil penyelidikan kecelakaan pesawat ini terjadi karena cuaca buruk dan kesalahan manusia.  Sang pilot, Roger Peterson belum berpengalaman terbang di tengah cuaca buruk sehingga melakukan kesalahan.

Pada  Senin malam, 2 Februari 1959, tur Winter Day Party berada di Iowa.  Seribuan lebih remaja putra dan putri berkumpul di Iowa’s Surf Ballroom, Clear Lake. Mereka bernyanyi dan menari bersama. Di saat itu, Holly meyakinkan teman satu bandnya untuk naik pesawat yang telah dicarternya. Pesawat Beechcraft Bonaza itu akan membawa mereka ke Fargo, North Dakota. Bandara terdekat dengan titik tur selanjutnya, Moorhead, Minnesota.

Penerbangan pada 3 Februari 1959 itu seharusnya menjadi  solusi dari berbagai permasalahan dalam tur Winter Dance Party.  Selama hampir satu setengah minggu menjalani tur, rombongan penyanyi dan musisi kelelahan. Peserta tur yang terserang flu. Honor belum dibayar. Pakaian kotor. Salju dan cuaca dingin membuat bus yang mereka naiki rusak.

Jika naik pesawat, Holly akan sampai lebih dahulu. Dia dapat mencucikan pakaian yang kotor dan beristirahat. Rencananya, pesawat akan membawa Holly dan dua anggota bandnya, Jennings dan gitaris Tommy Allsup. Tapi Jennings memberikan kursinya kepada J. P Richardson yang terserang flu. Sementara, Vallens menggantikan  Allsup setelah memenangkan adu koin dengan gitaris tersebut.

Sekitar pukul 00.30, ketiga penyanyi memasuki pesawat. Beberapa fans mengantar mereka ke bandara. Holly, Richardson dan Vallens melambaikan tangan menjawab teriakan penggemar mereka. Salju telah turun tapi langit cerah. Setelah berkomunikasi dengan petugas di menara pengawas, Peterson lalu menerbangkan pesawatnya. Lepas landas menuju Fargo.

Pesawat mengangkasa selama beberapa menit sebelum akhirnya terjatuh. Badan pesawat hancur karena kuatnya tekanan. Diperkirakan kecepatan pesawat saat jatuh sekitar 170 mil/jam. Seluruh penumpang dan pilot terhempas sejauh beberapa yards dari lokasi kejadian. Buruknya cuaca membuat petugas baru dapat mencapai lokasi pada pagi hari.

Kecelakaan ini mengejutkan seluruh keluarga. Pada saat itu, Maria Elena, istri Holly sedang hamil dua minggu. Guncangan emosi saat mengetahui suaminya meninggal dunia membuatnya harus kehilangan sang bayi. Istri Richardson juga sedang hamil. Beruntung, sang bayi dapat terlahir dengan selamat di tengah guncangan emosi.

Hingga akhir hayatnya,  istri Richardson tidak menikah lagi. Dia membesarkan anaknya seorang diri. Pun dengan Elena. Hingga saat ini, dia hanya menikah selama enam bulan bersama Holly.

Tur berlanjut walau ketiga penyanyi tewas.

Dalam wawancara di Rolling Stone pada 1973, Jennings mengatakan jika Holly sebenarnya tidak berencana mengikuti tur. “Satu-satunya alasan kenapa dia mengikuti tur adalah uang.” Pada saat itu, Holly dalam keadaan bangkrut dan harus mencari uang. Walau Jennings tidak menyebutkan nama, diduga kebangkrutan yang dialami penyanyi asal Texas tersebut karena perpecahannya dengan manajer atau produsernya.

Dari ketiga penyanyi, Holly memang yang memiliki catatan tersendiri bagi musik rock and roll. Walau hanya memiliki karir singkat dan meninggal di usia sangat muda, penyanyi bernama asli Charles Holley ini merupakan sosok yang berpengaruh di dunia musik.

Holly mempopulerkan format band yang terdiri dari dua gitaris, satu basis dan satu drummer. Format ini banyak ditiru oleh musisi, misalnya saja The Beatles, Weezer atau Talking Heads. Bahkan, Paul McCartney dan John Lennon memuja sosoknya.  Lennon dan George Harrison bahkan belajar bermain gitar dengan mendengarkan lagu Holy. Holly dinilai jenius karena tidak hanya menyanyikan lagu namun juga membuatnya. Holly menciptakan lagunya.

Semasa hidupnya tidak banyak lagu Holly yang dirilis. beberapa lagunya yang terkenal anyara lain Peggy Sue, That I’ll Be The Day, Oh Boy, Not Fade Away dan lainnya. Namun, lagu-lagu Holly yang dirilis setelah kematiannya menduduki tangga lagu di Inggris. Jadi jangan heran jika ada yang menjadikan Holly sebagai tetua dalam invansi musik Inggris di Amerika Serikat.

Sementara, Richardson terkenal dengan lagunya seperti Chantilly Lace, Big Booper’s Wedding, dan Walking Through My Dream. Vallens yang baru berusia 17 juga sudah memiliki hits seperti Donna dan La Bamba. Kisah kehidupan Vallens juga dituangkan ke layar perak dengan judul “La Bamba” dengan aktor Lou Diamond Phillips sebagai pemeran utama.

Ada beberapa lagu yang dibuat untuk mengenang peristiwa ini. Namun, lagu “American Pie” milik Don McLean disebutkan yang paling pas mewakilinya. Pada verse kedua dan ketiga dari lagu berdurasi delapan menit ini, McLean sudah menjelaskan bagaimana terkejutnya public saat mendengar kecelakaan pesawat tersebut. Dia juga memetaforakan kehilangan ketiga penyanyi tersebut sebagai hari matinya musik (the day the music died).

American Pie

But February made me shiver

With every paper I’d deliver

Bad news on the doorstep

I couldn’t take one more step

I can’t remember if I cried

When I read about his widowed bride

Something touched me deep inside

The day the music died…