Review Agnez Mo Long As I Get Paid

Review Agnez Mo Long As I Get Paid

378
0
SHARE
Agnez Mo cr: agnezmo FB

Lebih dari tiga tahun untuk penyanyi Agnes Monica atau Agnez Mo untuk kembali merilis single setelah “Coke Bottle”.  Beberapa hari silam, tepatnya 22 September, Agnez meluncurkan single “Long As I Get Paid”. It is nice to see her once again with new music.

Secara visual, video music “Long As I Get Paid” enak untuk dilihat. Ada kesan mewah dan nuansa etnik yang kuat. Busana batik hitam emas karya  desainer Anne Avantie memang menjadi kekuatan tersendiri. Untuk video ini, Anne menyiapkan tiga potong pakaian terdiri dari jubah, bustier dan legging. Keseluruhannya didominasi warna hitam.  Dari ketiganya, jubah bermotif batik ini merupakan juaranya. Jubah hitam dengan motif batik aneka warna ini sangat megah. Apalagi Agnez juga memakai mahkota keemasan untuk memperindah penampilannya. She is a queen.

 

However, there are few things that I dislike from the MV.

Intro yang terlalu lama.

Penonton harus menunggu lebih dari satu menit, tepatnya 1 menit 12 detik  baru lagunya dimulai. Dan dalam kurun waktu tersebut penonton hanya disuguhkan dengan adegan Agnez dan actor Brian J. White berjalan mengitari di Villa de Leon.  Tapi karena pengambilannya yang cinematic dan Villa de Leon memang megah, jadi masih bolehlah. Walau tetap saja, lama banget sampai satu menit.

Please, no more choppy bangs.

Agnez is a beautiful woman. No need to argue about it. But I really dislike the choppy bangs. It didn’t give justice to her beauty. Please, no more choppy bangs.

Sekarang soal lagu. Untuk yang satu ini ada cukup banyak yang mau dibahas. Agnez memiliki suara yang powerful dan range yang lebar. Saya sangat suka dengan “Matahariku” dan “Karena Ku Sanggup”. Kedua lagu tersebut masih berada dalam playlist di handphone walau sudah sangat lama dirilis.

Di kedua lagu tersebut, Agnez menunjukan kualitas vokalnya. Dia bernyanyi dengan penuh dinamika dan enak di dengar.   Dengan mudahnya seorang Agnez bermain-main dengan notasi di lagu-lagu tersebut.

Sayangnya, di “Long As I Get Paid” tidak menunjukan kemampuan vocal tersebut. Di lagu ini Agnez justru menggunakan auto tune. I am not against auto tune. Secara pribadi justru sangat disayangkan jika seseorang penyanyi yang memiliki kemampuan vocal yang baik justru menggunakan auto tune.

Hook di “Long As I Get Paid” juga mononton.  Honestly, I didn’t feel anything.  Tapi kata-kata “Long as I get paid” sukses menjadi ear worm . It stuck in my brain for a few days.

Kesimpulannya,  selamat untuk Agnez Mo yang sudah merilis single internasionalnya untuk kedua kalinya.  Sulit memang bagi orang asia untuk menembus pasar luar. Saya menghormatinya yang terus berusaha dan pantang menyerah. Saya juga berterima kasih karena  Agnez tidak melupakan darah Indonesia di dirinya dalam berkarya. Dari dua video klipnya,  dia selalu menggunakan batik. Jadi usahanya untuk mempromosikan batik lewat lagu patut diacungi jempol.

 

Oh ya, ada juga beberapa nada sumbang yang menyebutkan jika video music ini menjiplak Lady Gaga “Paparazi” dan Nicki Minaj “No Frauds”. Sebenarnya sih kalau hanya mengambil syuting di tempat yang sama tidak bisa disebut menjiplak. Alangkah repotnya jika setiap syuting harus menggunakan lokasi dan set yang baru. Lalu tentang “No Frauds” Nicki Minaj, mungkin disamakan karena di video ini, Minaj juga seolah-olah merupakan ratu sama seperti Agnez. Tapia pa sih yang original saat ini? Rasanya sulit untuk mencari sesuatu yang benar-benar baru. Semua orang saling meniru untuk mencari bentuk yang lebih sempurna dari sebelumnya. Dan kalau hanya konsep yang sama, susah juga untuk mengatakan kalau itu menjiplak. Kecuali kalau video musiknya sama betul baru deh bisa dibilang menjiplak.

Lalu, untuk lagu. Karena “Long As I Get Paid”  tidak menunjukan kemampuan vocal Agnez, berharapnya semoga untuk project selanjutnya bisa menunjukan vocal Agnez. Memang  persaingan di pasar Amerika sangat berat, jadi harus ada bedanya penyanyi yang satu dengan yang lain agar dinotice.