Catatan di Bulan April Tentang Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Catatan di Bulan April Tentang Kekerasan Seksual Terhadap Anak

363
0
SHARE
 cr: https://www.parentsprotect.co.uk/resources.htm

 

April adalah salah satu bulan yang memiliki makna penting bagi kaum perempuan dan anak dengan dua alas an yang bertolak belakang. Di bulan ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan Hari Kartini yang merupakan simbol emansipasi perempuan diharapkan dapat terus menginspirasi.

Alasan kedua—dan menjadi inti tulisan—adalah berkaitan dengan anak. Pada April 2016, ada dua kasus kekerasan seksual terhadap anak yang menarik minat publik. Pertama, kasus Yuyun di Bengkulu dan kedua, Mistiana di Lampung Timur.

Keduanya masih di bawah umur. Yuyun berusia 14 tahun sedangkan Mistiana berusia 10 tahun.  Keduanya juga berakhir tragis, tewas. Kalau pun ada perbedaan, kasus Yuyun berakhir di meja hijau sementara Mistiana tidak jelas. Tidak ada kejelasan siapa pelakunya. Tidak ada yang ditetapkan menjadi tersangka.

Mungkin karena minimnya keterangan yang ada menjadi kendala. Karena Mistiana terakhir terlihat pada Kamis, 14 April sore. Dia bermain bersama temannya sebelum menerima ajakan seseorang. Menaiki sepeda motor bersama dengan iming-iming akan diberi es krim.

Anak-anak memang rentan menjadi korban kekerasan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat jika pada 2016, ada 120 anak yang menjadi korban kekerasan seksual.  Menurun dibandingkan dengan periode 2014, dimana 565 anak menjadi korban kekerasan seksual.

Tidak hanya korban, anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual juga menurun. Pada 2016, jumlahnya 86 anak. Bandingkan dengan data anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual pada 2014 yang mencapai 561 orang.

Memang ada tren penurunan. Kita harus mengapresiasi kinerja pemerintah dan lembaga terkait serta masyarakat dalam mencegah anak menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual.  Namun, pekerjaan masih belum selesai.

Dari sumber data yang sama, media sosial justru berpotensi menjadi sumber/media kekerasan seksual anak terbaru. Pada 2016; ada 62 anak sebagai korban prostitusi online, 132 anak korban pornografi di media sosial, 51 anak pelaku kejahatan seksual online, 53 anak pelaku kepemilikan media pornografi.

Contoh lainnya adalah terbukanya grup pedofilia, Loly Candy’s. Grup di facebook ini diduga berjaringan dengan pedofilia dari luar negeri. Empat admin grup sedang diperiksa polisi.

Fakta ini sangat mengerikan. Karena angka-angka ini tidak mencerminkan statistika belaka.  Satu saja anak menjadi korban atau pelaku kekerasan sudah lebih dari cukup.  Ketika ada anak menjadi korban atau pelaku kekeraasan seksual, maka itu adalah salah orang tua, masyarakat dan negara.

cr: https://jougesin.solidariteit.co.za/en/5-steps-to-prevent-child-sexual-abuse/

Lantas apa yang harus dilakukan untuk mencegah anak menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual?

Pertama, kenalkan nama tubuh yang benar.

Ajarkan kepada anak, nama yang benar dari tubuh termasuk bagian intim.  Jangan pernah mengajari anak menyebutkan nama bagian tubuh dengan nama-nama lain. Mungkin maksud orang tua adalah memperhalus kata, tapi ini tidak tepat.

Jangan merasa tabu mengajari anak untuk menyebutkan bagian tubuh dengan benar. Kenalkan mereka dengan istilah “payudara”, “vagina”, “penis”. Karena jika anak sudah terbiasa menyebutkan nama-nama tersebut dengan benar, mereka dapat menjelaskan apa yang terjadi dengan benar juga. Tidak akan ada salah tafsir di sini.

Kedua, kenalkan mengenai batasan terhadap tubuh.

Maksudnya adakah anak diajari bahwa tubuh adalah milik pribadi. Tidak boleh orang menyentuhnya sembarang. Tidak boleh ada sentuhan yang membuatnya tidak nyaman.

Saya mengajari si sulung, Nuh, bahwa bagian yang ditutupi pakaian dalam tidak boleh disentuh orang lain. Kalau pun ada yang menyentuhnya harus ada penjelasan dan ditemani orang tua. Misalnya diperiksa dokter harus ada ibu atau abahnya yang menemani. Dan jika ada memegangnya, dia harus berani menolak. Jika takut, dia harus pergi dan segera melapor. Ini bukan paranoid tapi antisipasi.

Karena tidak boleh disentuh sembarangan, saya juga mengajarkan anak agar tidak sembarangan memegang tubuh temannya. Mungkin lagu di bawah bisa jadi referensi.

 

Ketiga, ajak anak bercerita.

“Hari ini ngapain aja?”

“Tadi belajar apa?”

“Jajan apa di sekolah?”

Saya tahu untuk pertanyaan ketiga, mungkin banyak yang tidak setuju. Tapi poin saya adalah ajak anak bercerita. Biasanya sebelum tidur saya akan ajak Nuh bercerita. Tanya aktivitas dia di sekolah dan di rumah. Dan dia akan antusias bercerita. Saya mencoba membangun komunikasi yang baik. Untuk Mirai juga. Walau dia hanya membeo  jawaban kakaknya tapi dia juga menceritakan semua yang dikerjakan hari ini.

Mungkin terdengar mudah, tapi yakinlah mengajak anak bercerita ini susah karena subyeknya adalah anak. Tujuannya adalah anak terbuka sehingga jika ada kejadian tidak menyenangkan, orang tua langsung tahu. Banyak anak korban kekerasan yang justru takut bercerita dengan orang tua.

Dan soal anak bercerita, banyak orang tua yang sulit meluangkan waktu dan perhatian. Saya menjadikan ini sebagai kebiasaan sebelum tidur. Saat ponsel dan tv dimatikan. Dua peralatan elektronik ini kerap membuat susah konsentrasi. Kalau mengajak anak bercerita pastikan dua benda ini tidak dinyalakan.

Sudah menjadi kewajiban kita—orang tua—menjaga anak dari berbagai kekerasan. Anak-anak harus dapat hidup sesuai dengan haknya.